Senin, 26 Desember 2011

Renungan Alpukat

Ketika memotong alpukat itu saya sudah mulai terpesona, tampak begitu lembut, dengan warna yang sempurna. Fresh.
Saat itu belum terpikir apa-apa.

Lalu beberapa saat setelah suapan pertama.. 
Saya merenung sesaat.
Rasanya memang lembut, matang sempurna, fresh, seperti baru dipetik. Tanpa rasa pahit seperti alpukat mengkal. Begitu fresh dan lembut.
Tiba-tiba terlintas, kapan ya terakhir kali saya makan alpukat seperti ini di Indonesia?

Mungkin karena pengalaman saya selama ini hanya dengan alpukat di tukang jus dekat kost, atau tukang es campur, maka saya begitu tersihir dengan alpukat di sini.
Tapi tiba-tiba saja saya jadi kepikiran bagaimana cara petani-petani alpukat di sini menanamnya ya?
Karena alpukat mempesona ini juga tidak dari supermarket, cuma dari pasar dekat rumah, bukan alpukat elite yang mahal seperti di kota besar indonesia, ini alpukat yang terjangkau orang dari semua kalangan.

Apa gerangan yang beda?
Suhu, curah hujan, ketinggian, kelembaban?
Ah, mungkin memang bentang alamnya yang cocok untuk pertumbuhan alpukat..

Tapi, tiba-tiba saya juga jadi membayangkan mungkin para petani di sini dengan seriusnya mempelajari kondisi yang cocok untuk pertumbuhan alpukat, dan benar-benar menerapkannya. Terlepas dari apakah kondisi alam itu mendukung atau tidak.
Mungkin mereka membuatnya jadi sebuah protokol yang reprodusibel alias bisa diulang untuk kali berikutnya dengan hasil yang kurang lebih sama.
Sebagaimana orang-orang dari negara ini juga mempatenkan resep pembuatan jenis makanan tertentu, dengan takaran dan komposisi yang precise.
Bukankah memang itulah yang berbeda dengan kita, yang seringkali mengandalkan rasa dan perkiraan.
Tambah garam secukupnya, gula kira-kira sesuai selera.
Itu juga kebiasaan saya.
Yang baru saya sadari ternyata kebiasaan ini terbawa juga dalam "dunia ilmiah", misalnya setelah menyalakan mesin PCR saya tinggalkan begitu saja sambil estimasi waktu dgn kasar, yah, gampang ntar ditengokin lagi.. begitu pikir saya.
Beda sekali dengan pembimbing saya: kalau pakai yang ini: 20 menit. katanya sambil menyetel alarm di hapenya.
Begitu juga dengan jurnal: pastikan bahwa apa yang kamu lakukan dapat diulangi oleh orang lain, tulis semua kondisi dengan jelas. begitu katanya.

Eh, kenapa jadi jauh sekali ya.. kembali ke alpukat, entah kenapa potongan buah itu seperti cerminan banyak hal dan sikap hidup bagi saya (hehe). Dipadukan dengan kerapian yang saya lihat di kota ini, kejelasan aturan dan keinginan untuk benar-benar menerapkannya, membuat saya kembali mempercayai kekuatan kedisiplinan. Walau tempaan sekian tahun kehidupan di Indonesia (jiah) telah membuat saya terlalu menghargai kelonggaran, kompromi, dan berbagai alasan-alasan lainnya.

Ya, entah kenapa belakangan ini pandangan saya terhadap banyak hal jadi begitu kompromistis, untuk banyak hal, prinsip yang saya terapkan adalah seperti: "nawar dikit boleh lah ya".

Yah, memang selalu ada tempat untuk toleransi.. tapi sepertinya tetap harus ada kondisi/aturan yang dipenuhi, paling tidak, kalau mau kembali ke soal alpukat.. seorang petani mungkin harus tahu tanah dan iklim yang cocok untuk pertumbuhannya lalu berusaha menciptakan kondisi itu, mungkin...

Tidak seperti saya, yang masih suka seadanya dan sekenanya.. ibaratnya, asal lempar biji alpukat, tumbuh sukur nggak tumbuh yo ben..

Ah, jadi melantur nih..

Sabtu, 08 Oktober 2011

How to Begin Your Day

Positive attitude,
is the beginning of everything

To have a positive attitude,
you have to start with a positive feeling

A positive feeling,
will only be real when you feel The Love of Alloh

To feel This Love,
you must have a strong faith..

To have a strong faith?

1st: Jump. Just Jump into it entirely. That's the essence of it.

2nd: Learn. Learn more. Tiresome, but give you more than you ask.

3rd: Do whatever that will please Him. Just do. Because only by servitude to The Most Gracious, you'll be served, and your need fulfilled.

4th: Ask. Plead. Convey your thought, your feeling, all to The Most Merciful.

That's it.

To summarize:

PRAY.
That's how to begin your day.

Di Tepi Danau

Suatu ketika
Di tepi sebuah danau luas
Aku terdiam kebingungan
Mau apa?
Bermain air sampai puas?
Atau duduk manis
Meharapkan tepian aman nun jauh di seberang?

Kamu harus sampai di sana,
Kata sebuah suara

Caranya?

Tentu kau yang harus bergerak melaju,
Tak mungkin tepian di seberang menghampirimu..

Apa aku harus terjun ke danau?
Tampak berbahaya dan aku tak tahu apa yang ada di sana..

Memang, katanya
Airnya beracun bila sampai menyentuh kulitmu..

Lalu, bisakah aku mengitari daratan untuk sampai ke seberang?

Daratan pun tak sepenuhnya aman, lagipula, ada hal yang kau butuhkan untuk kelangsungan hidupmu, yang harus kau penuhi dari tengah danau.. mustahil rasanya kau bisa bertahan hidup tanpa menyentuh danau..

Maksudmu??? Di danau bahaya, tapi di darat juga tak bisa??

Kurang lebih begitu.. lagipula, kau butuh kunci untuk mencapai tempat yang aman di seberang sana, kunci itu bisa kau temukan di dalam danau..

 Dimana???

Tenang, aku akan memberimu petanya..
lagipula, kau memang tak bisa serta merta terjun ke dalamnya..
Ada yang harus kau siapkan sebelumnya..

Apa itu?

Pertama, kau harus bisa berenang..
Itu dasar.
Terjun tanpa bisa berenang sama saja bunuh diri.
Kedua, kau harus punya baju renang kedap air,
Tenang saja.. airnya tak sepenuhnya beracun,
Tergantung luas permukaan kulit yang terkena, serta lamanya engkau bersentuhan..
Ketiga, kau harus tahu tempat mana yang harus dihindari, dan mana yang bisa kau kunjungi..
Keempat, kau harus ingat tujuan, karena begitu terjun, kau bisa merasakan betapa menyenangkannya bermain di dalam sana..tapi kau tak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga racun dalam air itu bisa melemahkanmu..
Semakin cepat kau melakukan tugasmu di dalam sana, semakin baik
Semakin sedikit yang terkena air, semakin baik..

Repotnya.. bolehkah aku memilih tak terjun saja?

Boleh. Bila memang kau tak mau menguasai persiapan itu, kau bisa memilih ketakutan dalam diam di daratan.. dan tak ada yang bisa kau lakukan. Tapi, berjuang berlelah-lelah belajar berenang, dan mempersiapkan semua peralatan, akan jauh lebih baik nilainya. Bila kau bisa memanfaatkannya, dan benar-benar tahu mengapa kau harus berenang.

Untuk sampai ke tepian kan?

Ya.
Tapi kau akan mudah sekali lupa, dan perjuanganmu belajar berenang, mungkin juga hanya akan mencelakakan, karena kau keasyikan bermain hingga racun itu menyebar di kulitmu.
Walau kau akan diberi alarm pengingat, yang berbunyi secara berkala.. mengingatkan bahwa kau punya tugas di dalam sana.. namun, kau tetap tak bisa lengah. Karena alarm itu bisa lepas dan hilang begitu saja bila kau tak pandai menjaganya. Intinya, kau harus waspada. Itulah harga yang harus kau bayar. Bila kau lengah, kau akan tahu akibatnya.

Ah, mungkin aku lebih baik tinggal saja di daratan sebagai pengecut.

Pikirkanlah baik-baik. Kau tak tahu juga bahaya apa yang akan menjumpaimu bila tetap di daratan, dan mungkin saja, kau akan iri melihat mereka yang meliuk berenang di sana. Kau juga harus memikirkan, bagaimana caranya memenuhi kebutuhanmu tanpa terjun ke danau. Karena kau pun tak bisa mengemis dan memelas pada mereka yang di sana untuk melemparkan hal-hal yang kau butuhkan ke daratan. Tak ada. Pikirkanlah. Tak ada yang memaksamu.. namun, bersegeralah..

Dia

Pertama kulihat
Ia sedang berjuang keras menggapai udara
Kesana-kemari menjulurkan kepala
Tak henti-henti
Berputar dalam toples yang tak sampai dua kali besar tubuhnya..
Kakinya mengepak-ngepak seolah ingin memanjat
Hingga di atas permukaan air
Namun ia tenggelam lagi
Terus dan terus begitu..
Berulang-ulang
Seolah memaksa dan meronta..
Aku terganggu
Hati kerasku yang bagai kamar berantakan
Tak menyimpan ruang sekedar untuk rasa kasihan
Hanya merasa tak tenang
Lalu berusaha cepat-cepat mencari kambing hitam
Ah, bagaimana sih pemiliknya..
Mengapa memberi toples sekecil itu?
Dan mengapa tinggi airnya tak dikurangi?
Agar si kura-kura,
Bisa santai menjulurkan kepala,
Sambil duduk tenang di dasar toples?
Aku bersungut
Merengut
Berprasangka pada yang memelihara
Ruang dalam hatiku memang sedang tak nyaman
Banyak barang-barang berantakan
Tak beraturan
Hingga tak bisa juga, mengeluarkan rasa dan sikap yang menyejukkan..

Minggu berselang..
Aku kembali melihatnya
Cangkangnya berlumut
Teronggok di dasar
Air toples keruh
Keruh sekali
Dan aku tertunduk lesu
Aku tak tega
Tak ingin melihatnya
Tp mungkin memang sudah saatnya..
Semua perjuangannya menggapai-gapai udara tempo hari..
Ah..
Betapa kejam..
Aku menghela nafas
Kehilangan semangat
Dan seolah dunia memang muram dan menyebalkan
Semuanya
Ya, semuanya.
Memang percuma, pikirku sambil mengingat diriku sendiri..
Memang percuma, kataku sok tahu.. sambil mencibir usaha-usahaku..
Mengira bahwa sang kura, sebagaimana juga diriku sendiri, telah gagal dalam usaha2 kami..

Bulan berselang..
Lama.
Tak pernah lagi dia singgah dalam ingatan..
Ruang yang berantakan dalam jiwaku itu harus, wajib, dibersihkan, walau begitu gelap dan menyeramkan.
Mau sampai kapan dibiarkan?
Bismillah..
Kumantapkan kaki melangkah..
Kukuatkan hati..
Tiada daya dan upaya melainkan dari Engkau,
Ya Rabb Semesta alam..
Kumulai kembali hari-hari
Memasrahkan yang telah berlalu
Dan penuh harap meminta kebaikan
Di hari-hari yang akan datang
Hingga suatu hari
Sekilas terbetik untuk singgah di tempat makan
Tempat yang sama ketika aku melihat kura-kura tangguh itu

Sepi
Meja-meja telah rapi
Dan mataku tertumbuk pada toples itu
Tidak kosong
Airnya jernih
Kepala kura tangguh mengarah lurus ke wajahku
Matanya berkedip
Dia tenang
Dalam diam
Sesekali berputar perlahan
Menyesuaikan diri dengan ruang kecil itu
Dia tampak tak terganggu
Selang berapa menit
Kepalanya menjulur ke permukaan
Bertahan beberapa detik menghirup udara dengan nyaman
Lalu kembali turun dengan tenang
Berkala, dia melakukannya untuk memperoleh udara
Tapi tak lagi meronta
Tak lagi memaksa
Geraknya rapi dan teratur
dia telah menemukan cara
untuk menata kembali hidupnya..

Aku menyuap dengan senyum
Ada yang terasa lapang dalam dada
Ah, terkadang..
Apa yang terlihat di sekitar kita
Sebenarnya hanya cerminan apa yang ada dalam jiwa..
Mungkin..

Apapun itu,
Dia, kura-kura tangguh itu..
Seolah menunjukkan cara untuk tak menyerah..
Dan membuatku malu pernah tertunduk lesu seperti dulu..

Terimakasih, ya Rabb..

Minggu, 25 September 2011

Ketika waktunya tiba..

Tak apa..
tak lagi perlu tampak
atau dibiarkan tergeletak
di permukaan

Lebih baik ditanam
cukup dalam
agar akarnya tumbuh menghunjam

Tak mengapa
tak mengapa tak ada yg tahu
apa kabarnya ia di dalam sana

Biar dipercayakan
Pada bumi yg bersedia merawat

Dititip
Pada Yang Paling Mengerti
kapan saatnya
tunas itu
menyapa mentari

Tak hendak merengek dan merajuk
lalu iri pada kuntum anggun itu
yang dipetik hati-hati
dimanjakan dalam jambangan
dilindungi dari terik mentari
dan dihindarkan dari guyuran hujan

Cukup percaya
semua baik adanya..
Tak perlu meminta jambangan serta takut pada panas hujan..
Cukup bahagia,
menempati bumi yg selalu murah hati..
Bahagia juga, dengan terik mentari..
karena ia memberi energi..
Pun guyuran hujan,
tak kan membusukkan, jika kau punya akar yg kuat menghunjam..
Cukup berharap saja,
agar tunas itu
dijadikan-Nya pohon yg kokoh tertanam
Dengan rerimbunan teduh
Dengan keindahan yg membunga di setiap pucuk
Dengan buah yg manis..
Biarlah ia memberi manfaat sepanjang masa
kelak ketika waktunya tiba..

Semoga..

Rabu, 06 Juli 2011

putting a piece of me

Well, at first I don't know why I should write, before this I usually didn't bother to conceptualized my thought. If I found something that I considered true, I'd try to live with it, why bother to write? :p
If in the end my thought is wrong.. well, I weep sometimes, but maybe I will ask for guidance and find another. Just that.
If I'm doubtful? then simply put it aside, not worrying until I have to. When the moment come that I have to choose an action, the doubt will leave on its own account. Sometimes circumstance helps us to choose, right? :)

But maybe the huge change in my awareness push me to write, simply because I realize that humans are subjects to memory loss.. even their memory about themselves. about their personality, their characteristic.

I just want this piece of me at a certain moment, can leave a trace when I look back in the future. And hopefully, there's something that I can learn from it.

Sabtu, 25 Juni 2011

PeDeKaTe

"Those who, have a mantle thrusted upon their shoulder, and find to their own surprise, that they wear it well." 
-Albus Dumbledore-

Suatu hari, saya diminta pedekate..

Dan tiba-tiba aja jadi kepikiran kemana-mana..

Mungkin semata karena saya kuper aja..
makanya kurang begitu antusias menyambut permintaan itu..

Tapi..
Entah mengapa terasa mengganjal juga...

mungkin karena ini bukan pertama kalinya..

mungkin juga karena ada beberapa kejadian serupa
atau perintah-perintah senada..

Ah, mari kita terjemahkan begini saja...
bahwa pedekate adalah upaya tulus untuk menghormati dan menjalin hubungan baik dengan siapapun, tanpa ada maksud-maksud tertentu di baliknya..

Biarlah, kita buang konotasi negatif apapun sesungguhnya..

Ini saya tulis karena saya kerap terjebak pada pemikiran yg menggelisahkan tentang sebuah posisi dan tanggung jawab..

Misalnya, saat mendengar saran-saran seperti ini yg terasa lumrah..

"Wah, kalau sama beliau, sukanya begini.. harus pintar-pintar ngambil hati.."

Hm, iya sih.. nggak ada yang salah sepertinya.. tergantung apa yg sedang dijadikan tujuan..

sama halnya ketika jaman kuliah.. "Wah, kalau sama dosen ini, jawabnya gini aja dek.. kalau sama itu jangan jawab begitu.. pokoknya belajar buku ini.."

Atau lagi.. "kalau mau keterima di A, saat wawancara harus pakai baju warna ungu muda totol-totol ijo pupus.. kalo jawab, gestur juga diperhatikan.. dagu sebaiknya membentuk cosinus 45 derajat dengan leher.. ritme bicara sebaiknya dua kata per detik.. amplitudo dan frekuensi juga harus pas.."
(ini apa siiiiiiiihhh... mulai nglantur)

ah, saya aja emang yg membuat prejudice sndiri..

tak ada yg salah dengan semua tips pedekate tersebut..

Bila semua hal sdh dilakukan dgn optimal, mengapa tidak saran tersebut juga dijalankan..

bila memang sudah belajar dgn maksimal, lalu memilih menjawab sesuai yg diinginkan dosen ya nggak apa2 lah.. emangnya kita siapa, masa mau bragging with pompous manner.. yg penting tahu, bila ujian dgn pak dosen X, sebaiknya jawabanmu adalah A, karena pemahaman beliau thd hal itu adalah begini.. tapi sebetulnya ada pemahaman lain thd hal tsb, kamu bisa pelajari dan pertimbangkan mana yg lebih baik utk diterapkan.. gtu kali ya..

Atau..

Kalau mau diterima di A, harus siap kerja keras.. mereka menghargai kejujuran, ketekunan, kedisiplinan.. mereka menghargai potensi, tapi tanggung jawabmu berat.. tapi percayalah, kalau kerjamu bagus, berdedikasi, di mana pun kamu pasti bisa diberikan tempat yg baik..

Tapi lagi, bukan posisi itu kan ya yang jadi tujuan.. rasanya, itu bukan sesuatu yang seharusnya diminta, melainkan jatuh dengan sendirinya. Apalagi diperjuangkan dengan tips wawancara saya seperti di atas.. (mana ada juga yg mau..), sama sekali bukan, rasanya...

Mungkin karena itulah para sahabat di zaman Rasululloh Sholallohu 'alaihi wassallam menganggap jabatan itu musibah.. mereka tidak berlomba-lomba mengincarnya, karena tahu konsekuensi di baliknya.. namun mereka "kejatuhan" juga tanggung jawab itu, bukan karena mereka menerapkan tips and trick wawancara atau cara jitu pedekate.. melainkan karena ketulusan dan kesungguhan hati dalam menjalani hidup mereka yang tercermin dalam akhlak mulia.
Ah, tak pantas rasanya berbicara ini..
Entahlah..
Cuma sedikit gundah saja...
berharap tidak terjebak pada definisi pedekate yg salah..

Ah, wallohu a'lam..

Hulu-nya dimana?

Suatu hari, saat kuliah psikiatri...

Sang dosen bertanya, pemenggalan TKW di Arab Saudi itu.. kira2 hulu permasalahannya di mana?

Multifaktor lah.. kt seorang kawan.

Bener juga, kata bapak Dosen tsb.. Tapi ada yg dominan, dan lupakan dulu faktor negara tujuan beserta karakteristik manusia dan budaya mereka yg berbeda.

Hm, kualitas TKW-nya memang kurang diperhatikan..  kata seorang kawan.

Lebih hulu lagi, jawab sang dosen.

Pelatihan dan pembekalan kurang? Perhatian pemerintah kurang? Kebijakan pemerintah tak mendukung?

Masih ada yg lebih hulu lagi!

Masalah ekonomi?

Jawab sang dosen, ya, dan hulu masalah ekonomi itu adalah korupsi, katanya.

Cukup sampai disini ceritanya, kita pasti sudah tahu tentang budaya itu, bagaimana mengakar, laten, dan luasnya, serta bagaimana akibatnya.

Namun, bila dipikir-pikir, korupsi yang dikatakan sebagai hulu permasalahan itu sendiri mungkin sebetulnya masih ada lagi hulunya, ya? Hulu yg jauuuh lebih mendasar lagi. Sesuatu yg telah menjadi sikap hidup dan sudut pandang. Dan bukan tak mungkin saat ini dianggap sebagai basic virtue.. ah, semoga tidak..

Hal ini lagi-lagi membuat saya kepikiran ke bidang kesehatan..

Tiba-tiba saja belakang ini jadi sering rasanya mendengar kisah malpraktik, yang entah bagaimana kebenarannya.. yang dituduh jelas membela diri, yg menuduh jg merasa sedang memperjuangkan haknya..
Belum lagi nada-nada sumbang yang katanya skr kualitas lulusan dokter semakin dipertanyakan..
Eh, juga keluhan ttg kapitalisasi industri obat.. (entah apa lagi ini maksudnya..)
Eh, ada lagi.. katanya.. sistem kesehatan juga masih kurang mendukung.. (atau entah bagaimana.. kurang lebih begitu lah)
Lalu, akumulasi ilmu pengetahuan tambah banyak tp mengapa aplikasi dan manfaatnya tak berbanding lurus... entah kalau yg ini hulu-nya dimana..

Jujur banyak yang tak saya mengrti dalam dunia kedokteran ini, bagaimana interaksi antar sistem dan dimana hendaknya saya menempatkan diri. Banyak jg yg terasa dilematis bagi saya di dalam dunia kedokteran ini. Kurva belajar dokter muda vs kepentingan pasien, kebutuhan update ilmu vs tugas RS yg demanding physically, dll..

Ah, lagi-lagi.. dikotomi dan polarisasi tak akan membawa pada penyelsaian.. dan pada akhirnya, keputusan yg baik seringkali adalah tetap berjalan dan berusaha untuk tidak tertarik terlalu jauh ke satu sisi..
Hanya saja, sayangnya.. garis2 yg menyatakan seberapa dekat atau seberapa jauh posisi kita thd sisi tersebut agak kabur..
Dan mungkin itulah mengapa sering kali saya tak sadar melakukan sesuatu tidak dengan porsi yg semestinya, alias terlalu condong ke satu sisi dan mengabaikan yg lain. Zhalim, istilah yg saya kenal utk hal ini.

Lalu apa hubungannya dgn korupsi? tidak ada secara langsung sih. hehe.
Saya hanya merasa bahwa hulu dari berbagai ketidakseimbangan dan peristiwa-peristiwa besar yg menggemparkan di sekitar kita sebetulnya mungkin bermula dari nilai-nilai, pola pikir, dan sikap hidup yang kita tunjukkan sehari-hari. Pada hal-hal kecil yang kita jalani sebagai manusia secara pribadi. Bagaimana kita mnmpatkan nilai-nilai dgn benar, bertanggung jawab terhadapnya, dlm hidup kita sebagai manusia secara umum, sebelum membawanya ke tingkat profesi.

Terlintas juga dalam benak saya, mungkinkah sebetulnya saya hanya perlu memandang hidup ini sebagai kompetisi, perlombaan dimana hanya Dia saja yang bisa menetukan, berapakah nilai kita.. alangkah ruginya bila saya sibuk membenahi banyak hal di luar diri namun lupa dgn tanggung jawab saya sendiri sebagai seorang pribadi.

Ah, wallohu a'alam..

Kamis, 23 Juni 2011

Dilema

Saya kagum dengan mereka yang menjadi pasukan utama penanganan pasien, terutama di Rumah Sakit. Terutama lagi, RS Pendidikan, RS Umum Pusat, RSUD, dan RS-RS besar lainnya.

Pasukan tersebut adalah para dokter spesialis junior, bapak dan ibu residen (yang sedang menjalani pendidikan dokter spesialis), dan tentu saja adik-adik koass yang bersemangat.

Tentunya kita pernah mendengar kalau jam kerja normal adalah 40 jam seminggu? Dengan liburan di akhir minggu tentu saja. Untuk memberikan sebuah kehidupan yang sejahtera dengan well-beingness di segala aspek; keluarga, sosial, kesehatan fisik, mental, dan spiritual.

Sebagai Koass (yg sedang menjalani program profesi utk jd dokter umum), saya pernah mengalami jam kerja 19 - 22 jam per hari. Hitung rata2 20 jam/hari, kali 6 hari, sama dengan 120 jam seminggu.
Jadwalnya:
1. Malam jaga bangsal atau UGD (jam 19.00 - 07.00)
2. Laporan jaga 07.00 - 08.00
3. Jaga poliklinik jam 08.00 - 14.00 (sering sampai 15.00)
4. Lanjut kuliah materi 2 jam di sore hari (15.00 - 17.00)

Jadi saya hanya punya waktu dr jam 17.00 - 19.00 dalam sehari. Untuk mandi dan nyuci, dan makan, dan tidur, dan lain-lain. Begitu setiap hari.

Alhamdulillah kami ternyata masih bisa hidup sampai sekarang, hehe. :D Ya, kami pada akhirnya memang survive. Sebagian besar merasa bahwa itu memang bagian tak terelakkan dari pendidikan dokter. Malah banyak juga yang bangga karenanya. Waktu itu, saya sendiri tak sempat lagi berpikir apakah saya harusnya bangga dengan tugas ini atau tidak. Yang ada capek, belum lagi banyak kesalahan dan kebingungan ketika melakukan tindakan (maklum masih belajar, tapi tetap disupervisi kok), dan kalau ada waktu luang langsung saja saya pakai buat tidur. hehe. (lha terus belajarnya kapan??)

Beberapa kali saya sempat memandang ke belakang, ke masa-masa itu, lalu melihat lagi ke depan (apa coba). Siklus itu sepertinya akan terus berputar. Entah kapan bisa berhenti. Karena rumah sakit masih butuh banyak dokter. Demand selalu ada untuk para dokter yang melanjutkan pendidikan (spesialis dan sebagainya). Hingga munkgin sebagian besar lulusan dokter umum malah merasa malu kalau tidak studi lanjut. Maka, demikianlah, selepas lulus dokter umum, kesibukan dan detak Rumah Sakit yang berpacu itu berulang kembali, menjadi residen, dengan kesibukan dan tanggung jawab yang lebih besar dari koass dahulu.

Lalu selesaikah kesibukan itu ketika akhirnya gelar spesialis sudah di tangan? Mestinya tidak. Karena mereka dibutuhkan di rumah sakit. Orang-orang ahli seperti mereka masih sedikit. maka, dimulailah lagi aktivitas dan tanggung jawab mereka yang baru. Berpacu dengan waktu di Rumah Sakit.

Apakah mereka punya keluarga? Anak, istri, suami? Tentu. Dan banyak juga di antara mereka yang kehidupan sosial dan keluarganya sukses. Bahkan ada yang jadi seleb seperti Tompi. :D

Hm, untuk sementara, mari kita kesampingkan saja dulu laporan-laporan mengenai penurunan kualitas pelayanan medis akibat dokter yg kelelahan, atau penelitian ttg tingkat depresi dan kecemasan yang semakin meningkat pada mereka.

Kita beralih pada penelitian yang semakin banyak tentang perkembangan teknologi di dunia medis dan semakin terbukanya research frontier di segala bidang: pengobatan, diagnosis, patofisiologi, dll.

Akan berujung di manakah semua itu?

Masyarakat yang kian sehat hingga beban kerja dokter tak lagi membludak?

Ataukah semakin terungkapnya berbagai penyakit, yang menuntut terapi lebih mutakhir, dan berujung pada kebutuhan akan tenaga-tenaga baru untuk memepelajari hal tersebut, sehingga demand akan ahli-ahli tersebut semakin bertambah?

Lalu dimulailah lagi siklus tadi. detak kehidupan rumah sakit yang tiada henti, pejuang-pejuang kemanusiaan terjun ke dalamnya serta diikhlaskan oleh keluarganya, yang tidur sedikit dan mungkin tak sempat melihat matahari (mm, agak dramatis sih, hehe).

Disini saya memang tak bermaksud membicarakan 'oknum' yg kadang digosipkan orang sebagai 'yg lalai dalam tugas', atau yg katanya semata bertujuan duniawi dan mungkin belum menyadari seberapa besar tanggung jawabnya. Mungkin itu lain cerita. Walau pernah juga saya mendengar cerita tentang mereka.

Nah, skr kita kembali pada laporan dan penelitian ttg tingkat kelelahan, depresi, stres, dan kualitas pelayanan yg menurun. Saya berbaik sangka bahwa sebetulnya para dokter sudah berusaha sebaik mereka, tapi beban kerja itu memang berat.
Haruskah kita berteriak pada mereka dengan murka: "Kalau nggak mampu nggak usah jadi dokter dong!! Udah jelas beban kerjanya berat, kalo nggak bisa tanggung jawab ya nggak usah aja!!"?

Saya mmbayangkan, mungkin, bila semua dokter merespon teriakan semacam itu, maka tak akan ada lagi yg tersisa. Karena sejatinya, saya yakin mereka tahu tanggung jawab itu besar sekali untuk bahu-bahu mereka, dan mereka juga mgkin merasa tak akan sempurna menunaikannya.

Namun, apakah bila kita tak dapat melakukannya dengan sempurna lantas kita mundur saja? lalu siapa nanti yg ada disana? adakah orang yg merasa mampu dan sempurna hingga tetap berani dan dengan senang hati ada disana?

Ah. Saya tendensiuskah?

Tapi saya juga tak menutup mata akan banyaknya kelalaian dan laporan ketidakpuasan pasien. Seperti yg saya kemukakan, dengan beban kerja begitu rupa, memang nampaknya mustahil untuk sempurna.

Tapi sampai kapan kita pakai dalih itu?

Sampai dokter ahli menjadi banyak dan mereka bisa membagi bebannya bersama2 sehingga lebih ringan?

Akankah ada saat-saat itu?

Mengingat bahwa di luar negeri dgn sistem kesehatan yang memungkinkan dokter bisa hidup lebih sejahtera pun, laporan itu tak kalah banyak. bahkan tercatat di jurnal dan penelitian-penelitian.

Dan mengingat kemajuan dan keinginan manusia untuk terus berkembang, sperti yg telah saya kemukakan dgn byknya penelitian ttg penyakit baru, pengobatan baru, spesialisasi baru, dll... tidakkah justru siklus ini akan terus berulang? Tidakkah berarti kebutuhan tetap banyak, beban kerja tetap banyak, dan dalih tersebut akan tetap berlaku bagi 'kelalaian' tadi?

Ah, semoga ini hanya pesimisme saya saja.

Lalu mengingat satu hal yg belum banyak disinggung di awal: kehidupan pribadi dokter itu sendiri. bagaimana dengan keluarga, cinta mereka, kehidupan sosial dgn tetangganya, kehidupan spiritualnya, kebutuhannya akan ketenangan, walau keluarga mereka mugkin maklum,dan dokternya juga ikhlas.. tapi saya masih belum bisa membayangkan bahwa itulah hidup seimbang yg didambakan.

Ah, egoiskah saya, memikirkan kehidupan yang seimbang sementara masih banyak org2 yg lebih tak beruntung, yg kerjanya lebih berat namun sama sekali kepuasan dan imbalan yg didapat tak setimpal: pemulung sampah? penjual jagung bakar di pinggir pasar? buruh bangunan?

Lagi-lagi saya belum menemukan jawaban untuk semua itu.

Sempat terpikir di benak saya, mungkin jawabannya adalah kedokteran pencegahan?
Teringat seorang supervisor yang pernah menyampaikan, bahwa hendaknya yang ada di pikiran kita adalah paradigma sehat, bukan paradigma sakit.

Jadi, apakah selama ini kerja keras penelitian dan upaya penyingkapan penyakit, diagnosis, serta pengobatan adalah paradigma sakit?

Mungkinkah maksudnya sebaiknya kita kembali memfokuskan pada perbaikan cara hidup? Cara hidup seperti apa? Cara hidup sehat tentu saja. Sebagaimana penelitian2 terbaru banyak mengungkapkan, bahwa cara hidup "guyub" (penelitian di Roseto, Itali, kalau tidak salah), yang memperhatikan kehidupan sosial, kemudian hubungan dengan keluarga yang harmonis, cukup olahraga, cukup tidur, makan sehat, dan kembali ke alam, adalah titik tolak dari kehidupan yang sehat. Ohya, satu lagi yang tak kalah penting, penelitian sekarang cenderung memperlihatkan bahwa doa dan kehidupan spiritual, sangat esensial dalam kehidupan manusia, ditinjau dari aspek medis.

Tapi lagi, agak sulit bagi para dokter untuk bisa mempertahankan hal tersebut di tengah kesibukannya "berperang" melawan kesakitan. Walau mungkin manusia hebat seperti itu ada. Dan agak tak sesuai juga tentunya bila dokter menyarankan hidup sehat sementara dia sendiri sulit menghindar dari makanan berlemak, shift kerja berlebihan, stressor tinggi, dan waktu yang kurang dengan keluarga.

Ah, lagi-lagi saya juga belum bisa menyimpulkannya.
Saya cuma bisa berdoa, semoga apa yang kami lakukan tak sia-sia.
Semoga dijaga dari takabur, ujub, sifat tak bersyukur.
Semoga diberi kekuatan yang hanya bersumber dari-Nya.