Sabtu, 14 Januari 2012

Satu Variabel Baru

Cukup lama saya merenungkan apa yang sebenarnya berubah dalam hidup saya..

Tidak tampak bedanya mungkin, tapi terasa.
Begitu terasa.

Tak nyaman.
Dan saya tak tahu di mana bedanya.

Saya bersyukur dengan apa yang telah diberikan untuk hidup saya,
namun sepertinya saya masih belum bisa menempatkan banyak hal dalam posisi yang sepenuhnya tepat..

Mungkin seperti diberi rumah lengkap dengan isinya, tapi ada mesin cuci dan kompor gas deket kasur, kulkas yang terjungkir balik, meja belajar di kamar mandi, buku-buku bercampur baju dan kaos kaki. Semua ada, tapi tetap saja terasa pusing.

Tapi tentu saja itu masih bisa dirapikan, karena kita tahu benda apa yang seharusnya ditempatkan di mana.
Yang susah adalah jika kita tak tahu bagaimana kita harus menyusunnya, seperti banyak hal dalam hidup kita.

Terpikir oleh saya, mungkin semua ini bisa dihindari kalau kita punya rencana, punya gambaran tentang hidup yg ingin kita pahat.. tapi tentu tak sesederhana itu.

Ya, mungkin bisa saja kita membuat rencana akan seperti apa rumah kita dari jauh-jauh hari sebelumnya, kita sudah tahu ingin menempatkan mesin cuci dan lemari di sebelah mana, dapur sebelah mana, dan lain sebagainya.. tapi yang tak terduga, sepertinya selalu ada kemungkinan untuk ikut serta..misalnya, tiba-tiba saja dapat hadiah mobil, dan tentu saja kita jadi harus merubah semua rancangan rumah itu, yang sudah dibuat dengan sesempurna mungkin.. walau mobil itu sebuah anugerah, tetap saja, perlu penyesuaian untuk membuatnya menjadi bagian hidup kita.

Dan mungkin, itulah yang saat ini saya rasakan.
Sebuah variabel baru, yang membat saya harus mengubah banyak hal, mungkin termasuk sikap dan pandangan hidup saya?
Saya tak tahu.
Saya masih belum tahu bagaimana menyikapinya.
Apa yang harus berubah dan apa yang tidak.

Bangunan mana yang perlu dipugar, mana yang harus tetap ada.
Dan... apakah variabel baru ini memang harus menjadi bagian dari hidup saya, dengan segala perubahan yan dibawanya... ataukah... tak ada yang perlu berubah.. dan kadang sebuah mobil pun akan lebih baik jika berada di tangan orang lain yang lebih tepat..
Saya juga tak tahu...

Hanya bisa berdoa, agar saya bisa memutuskan yang terbaik...

Ventilasi

Pagi ini, terlintas sebuah ide yang sepertinya menarik..
Tulis di facebook ah, pikirku.

Sejenak kemudian pikiranku melayang pada tahun-tahun silam,
Ada yang beda dari semangat ini.

Rasanya dulu sebuah ide akan terasa menyesakkan jika kita belum beranjak untuk bergerak..
Sekarang kita bisa menuliskannya dulu, kan nanti bisa dibaca-baca kalau lupa..
kalau momennya tepat, baru terlaksana.. *mungkin*

Paling tidak, itulah yang terjadi pada saya.
Semangat itu tertuang dalam kata.
Menjejak dalam ucap, di status fb, bbm, di twitter, di blog, di kertas...

Tapi sepertinya ia tak lagi menyisakan tenaga untuk membuat saya bergerak.
Tenaga yang dahulu bisa menggerakan itu sepertinya sekarang lebih mudah untuk meloloskan diri lewat celah-celah ventilasi..
Hingga sisa tenaganya tak cukup untuk membangun sebuah tekanan layaknya sebuah sistem peluncur roket..

Yah, memang saya juga sih yg membuat lubang-lubang ventilasi itu..
Saya yang menyediakan pelarian untuk semangat-semangat itu.. sehingga mereka berhamburan keluar..

Mungkin perumpamaan yg lebih dekat adalah seperti menimba air dengan ember berlubang..
Airnya sudah habis sebelum ember sampai ke tangan kita..

Saya benar-benar harus banyak belajar..
Untuk tak membuang tenaga sia-sia,
Hanya dalam bentuk kata-kata..


Minggu, 01 Januari 2012

Tahun Baru?

Saat selesai menulis post di bawah (Ayam Panggang dan Harmoni), saya sempat bengong sesaat ketika menemukan judul itu ada di bawah Arsip Januari, 2012.

Hmmm..
Tak sadar bahwa hari ini hari pertama di tahun baru.
"Tapi itu tahun baru Masehi!" tiba-tiba saya terngiang ucapan seorang teman.

Ya, tentu saja, tonggak waktu yang sehari-hari kita gunakan, di sekolah, di rumah, di mana-mana, adalah tonggak waktu peninggalan zaman dulu. Dan kalender Masehi inilah yang paling lazim digunakan.
Jujur, saya sendiri hanya menganggapnya tonggak waktu.
Sebagaimana matahari dan bulan menunjukkan pergantian malam dan siang.
Ia-lah alat.
Memang ia adalah produk budaya tertentu.
Namun, apa yang tidak?

Terkadang propaganda besar-besaran lah yang membuat sebuah budaya bertahan,
terkadang karena ia memang tahan terhadap tempaan zaman, karena ia berdaya guna, karena ia memang yang paling baik dan sesuai dengan aturan semesta raya.
Mungkin. Saya sendiri tak tahu pasti.

Yang jelas tonggak waktu yg satu ini tiba-tiba membuat saya berpikir tentang perjalanan selama ini..
Dan apa yang akan saya hadapi dalam tahun-tahun ke depan..

Entah apa..

Saat menulis ini saya memandang keluar jendela dan melihat burung-burung beterbangan di balik ranting-ranting pohon yang gundul.
Pohon-pohon di musim dingin.
Ya, saya di negeri empat musim,
yang bukan negeri saya sendiri.

Saya lupa apa yang saya impikan di tahun-tahun belakangan.
Saya pun tak tahu apakah perjalanan ini masuk ke dalam rencana atau tidak.

Saya sendiri lupa apa rencana-rencana saya.

Dua tahun terakhir seperti mimpi singkat.

Notasi-notasi kehidupan yang biasanya saya rasakan perlahan-lahan, saya ingat dan beri makna begitu rupa, dalam dua tahun ini seperti berjejalan dan dan berdesakan.
Masih terlalu rumit untuk saya urai dan telusuri agar kembali menjadi rangkaian rapi.
Masih terlalu dini memutuskan kacamata mana yang akan saya gunakan untuk memandangnya..

Namun, apapun itu..
Saya bersyukur menemukan sesuatu yang akan terus membuat saya berjalan..
Bismillah..
Sungguh.. tak ada daya dan upaya, tak ada makna, tak ada apapun selain karena kehendak-Nya..

Maka, semoga saya bisa menggunakan tonggak waktu ini untuk kembali menata yang terlanjur berserakan..


Nijmegen, 1 Januari 2012

Ayam Panggang dan Harmoni

Memang tak ada yang lebih nikmat selain masakan dari negeri sendiri.
Itu yang saya simpulkan ketika menikmati ayam panggang di kedai Turki.
Ayamnya sendiri enak, harum, empuk merata. Tapi bumbu.. hmmmm... Indonesia tetap juara, :p

Setelah obrol sana-sini, ternyata komentar teman-teman yang sudah lama di sini juga serupa, bagi kami, masakan di sini terlalu "tawar". (tapi bagus juga mungkin ya, bagi yang diet gula dan garam, :) )

Untuk menambah rasa, akhirnya saya pun minta chilli sauce, alias sambal botolan.
Namun, setelah satu suapan, lagi2 saya tak tahan untuk berkomentar.. kok rasanya solo pedas saja? Duet sedikit dengan rasa asin. Hiks.. mana manis-manisnya, asam-asam tomatnya, dan harum bawang2nyaa.. T.T (lebay ya.. hehe), lalu disusul dengan teriakan.. sambal A*C, aku padamuu.. (halah)

Setelah saya pikir-pikir,
Masakan Indonesia itu seperti "konser segala rasa" yang komposisinya harus seimbang, hehehe..
Sayur asam yang salah satu masakan favorit saya, contohnya, mengandung semua jenis rasa.. *kecuali rasa pahit dink, hihi*
Kalo melihat bumbu rendang atau sambal balado, gudeg, dll.. wah.. bermacam bumbu ada di sana.. dan rasanya lezaaat... manis, asam, asin, pedas, berpadu seimbang.

Kebanyakan masakan di sini hanya menggunakan sedikit bumbu, cukup garam dan merica, misalnya. Atau cukup dicocol mayonaise, atau saus-saus lainnya yang creamy. Sementara, kalo dipikir-pikir, yang diunggulkan dari masakan tersebut sepertinya adalah rasa asli bahan makanannya. Misalnya, rasa asli ikannya, atau sayur-sayurannya.

Berbeda dengan makanan favorit saya, si rendang, sate, sayur asam, gudeg, ikan pindang, yang bumbu-bumbunya berlimpah dan membaur hingga rasa asli makanannya tak begitu bisa dibedakan.

Hmmm... apa mungkin karena Indonesia paduan berbagai budaya ya?
Hingga sikap pertengahan nan seimbang itulah yang harus diunggulkan, bahkan dalam hal masakan?
Tentu, kita masih bisa membedakan bahwa ini wangi jeruk nipis, ini kayu manis, dsb.. tapi semua membaur dalam satu harmoni. Bersatu padu. Bhineka tunggal ika.
Nah lho.. kok jadi kesini?
Hehe..

Jujur, memang ini yang saya pikirkan.
Suatu hari saya juga sempat ngobrol dengan salah seorang supervisor di sini, katanya karakteristik manusia kadang bisa dilihat dari letak geografis tempat dimana ia berasal.
Semakin dekat ke kutub, orang-orang semakin tertutup dan individualis, katanya.
Semakin mendekati ekuator, orang-orang lebih ramah dan terbuka.
Walau tentu tak bisa digeneralisir sepenuhnya.
tapi mungkin ada benarnya juga.
Menurutnya, semua itu ada kaitannya dengan keragaman juga, mendekati ekuator, keragaman di suatu tempat menjadi lebih tinggi. Contoh nyata, tentu saja hutan amazon dan hutan Indo, yang keragaman hayatinya sangat tinggi.
Bukan berarti di tempat lain tak ada jenis binatang atau tumbuhan yang berbeda. Mereka juga memiliki ekosistem khas mereka, namun lebih homogen atau less diverse tentu saja.
Dan, katanya, di tempat dengan keragaman tinggi, sikap menjaga harmoni-lah memang yang akan membantu menjaga kelangsungan hidup kita.
Jadi, betapa indah semboyan itu sebenarnya, Bhineka Tunggal Ika, Unity in Diversity.

Hmmmm.. terakhir, saya ingat pepatah orang tua kita dahulu, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.. begitu katanya.. tak bisa kita memaksakan budaya luar ke dalam negeri kita. Ada yang asli, yang original, yang harus dipertahankan, yang dari fondasi itulah kita berharap bisa bergerak maju, membawa jati diri kita. Tidak semata mengadopsi kemajuan dan menerapkan apa yang berhasil nun di tempat yang jauh berbeda karakteristiknya.

Ah, semoga saja ini bukan cuma cerita gombal yang terlintas selagi makan ayam...