Positive attitude,
is the beginning of everything
To have a positive attitude,
you have to start with a positive feeling
A positive feeling,
will only be real when you feel The Love of Alloh
To feel This Love,
you must have a strong faith..
To have a strong faith?
1st: Jump. Just Jump into it entirely. That's the essence of it.
2nd: Learn. Learn more. Tiresome, but give you more than you ask.
3rd: Do whatever that will please Him. Just do. Because only by servitude to The Most Gracious, you'll be served, and your need fulfilled.
4th: Ask. Plead. Convey your thought, your feeling, all to The Most Merciful.
That's it.
To summarize:
PRAY.
That's how to begin your day.
Sabtu, 08 Oktober 2011
Di Tepi Danau
Suatu ketika
Di tepi sebuah danau luas
Aku terdiam kebingungan
Mau apa?
Bermain air sampai puas?
Atau duduk manis
Meharapkan tepian aman nun jauh di seberang?
Kamu harus sampai di sana,
Kata sebuah suara
Caranya?
Tentu kau yang harus bergerak melaju,
Tak mungkin tepian di seberang menghampirimu..
Apa aku harus terjun ke danau?
Tampak berbahaya dan aku tak tahu apa yang ada di sana..
Memang, katanya
Airnya beracun bila sampai menyentuh kulitmu..
Lalu, bisakah aku mengitari daratan untuk sampai ke seberang?
Daratan pun tak sepenuhnya aman, lagipula, ada hal yang kau butuhkan untuk kelangsungan hidupmu, yang harus kau penuhi dari tengah danau.. mustahil rasanya kau bisa bertahan hidup tanpa menyentuh danau..
Maksudmu??? Di danau bahaya, tapi di darat juga tak bisa??
Kurang lebih begitu.. lagipula, kau butuh kunci untuk mencapai tempat yang aman di seberang sana, kunci itu bisa kau temukan di dalam danau..
Dimana???
Tenang, aku akan memberimu petanya..
lagipula, kau memang tak bisa serta merta terjun ke dalamnya..
Ada yang harus kau siapkan sebelumnya..
Apa itu?
Pertama, kau harus bisa berenang..
Itu dasar.
Terjun tanpa bisa berenang sama saja bunuh diri.
Kedua, kau harus punya baju renang kedap air,
Tenang saja.. airnya tak sepenuhnya beracun,
Tergantung luas permukaan kulit yang terkena, serta lamanya engkau bersentuhan..
Ketiga, kau harus tahu tempat mana yang harus dihindari, dan mana yang bisa kau kunjungi..
Keempat, kau harus ingat tujuan, karena begitu terjun, kau bisa merasakan betapa menyenangkannya bermain di dalam sana..tapi kau tak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga racun dalam air itu bisa melemahkanmu..
Semakin cepat kau melakukan tugasmu di dalam sana, semakin baik
Semakin sedikit yang terkena air, semakin baik..
Repotnya.. bolehkah aku memilih tak terjun saja?
Boleh. Bila memang kau tak mau menguasai persiapan itu, kau bisa memilih ketakutan dalam diam di daratan.. dan tak ada yang bisa kau lakukan. Tapi, berjuang berlelah-lelah belajar berenang, dan mempersiapkan semua peralatan, akan jauh lebih baik nilainya. Bila kau bisa memanfaatkannya, dan benar-benar tahu mengapa kau harus berenang.
Untuk sampai ke tepian kan?
Ya.
Tapi kau akan mudah sekali lupa, dan perjuanganmu belajar berenang, mungkin juga hanya akan mencelakakan, karena kau keasyikan bermain hingga racun itu menyebar di kulitmu.
Walau kau akan diberi alarm pengingat, yang berbunyi secara berkala.. mengingatkan bahwa kau punya tugas di dalam sana.. namun, kau tetap tak bisa lengah. Karena alarm itu bisa lepas dan hilang begitu saja bila kau tak pandai menjaganya. Intinya, kau harus waspada. Itulah harga yang harus kau bayar. Bila kau lengah, kau akan tahu akibatnya.
Ah, mungkin aku lebih baik tinggal saja di daratan sebagai pengecut.
Pikirkanlah baik-baik. Kau tak tahu juga bahaya apa yang akan menjumpaimu bila tetap di daratan, dan mungkin saja, kau akan iri melihat mereka yang meliuk berenang di sana. Kau juga harus memikirkan, bagaimana caranya memenuhi kebutuhanmu tanpa terjun ke danau. Karena kau pun tak bisa mengemis dan memelas pada mereka yang di sana untuk melemparkan hal-hal yang kau butuhkan ke daratan. Tak ada. Pikirkanlah. Tak ada yang memaksamu.. namun, bersegeralah..
Dia
Pertama kulihat
Ia sedang berjuang keras menggapai udara
Kesana-kemari menjulurkan kepala
Tak henti-henti
Berputar dalam toples yang tak sampai dua kali besar tubuhnya..
Kakinya mengepak-ngepak seolah ingin memanjat
Hingga di atas permukaan air
Namun ia tenggelam lagi
Terus dan terus begitu..
Berulang-ulang
Seolah memaksa dan meronta..
Aku terganggu
Hati kerasku yang bagai kamar berantakan
Tak menyimpan ruang sekedar untuk rasa kasihan
Hanya merasa tak tenang
Lalu berusaha cepat-cepat mencari kambing hitam
Ah, bagaimana sih pemiliknya..
Mengapa memberi toples sekecil itu?
Dan mengapa tinggi airnya tak dikurangi?
Agar si kura-kura,
Bisa santai menjulurkan kepala,
Sambil duduk tenang di dasar toples?
Aku bersungut
Merengut
Berprasangka pada yang memelihara
Ruang dalam hatiku memang sedang tak nyaman
Banyak barang-barang berantakan
Tak beraturan
Hingga tak bisa juga, mengeluarkan rasa dan sikap yang menyejukkan..
Minggu berselang..
Aku kembali melihatnya
Cangkangnya berlumut
Teronggok di dasar
Air toples keruh
Keruh sekali
Dan aku tertunduk lesu
Aku tak tega
Tak ingin melihatnya
Tp mungkin memang sudah saatnya..
Semua perjuangannya menggapai-gapai udara tempo hari..
Ah..
Betapa kejam..
Aku menghela nafas
Kehilangan semangat
Dan seolah dunia memang muram dan menyebalkan
Semuanya
Ya, semuanya.
Memang percuma, pikirku sambil mengingat diriku sendiri..
Memang percuma, kataku sok tahu.. sambil mencibir usaha-usahaku..
Mengira bahwa sang kura, sebagaimana juga diriku sendiri, telah gagal dalam usaha2 kami..
Bulan berselang..
Lama.
Tak pernah lagi dia singgah dalam ingatan..
Ruang yang berantakan dalam jiwaku itu harus, wajib, dibersihkan, walau begitu gelap dan menyeramkan.
Mau sampai kapan dibiarkan?
Bismillah..
Kumantapkan kaki melangkah..
Kukuatkan hati..
Tiada daya dan upaya melainkan dari Engkau,
Ya Rabb Semesta alam..
Kumulai kembali hari-hari
Memasrahkan yang telah berlalu
Dan penuh harap meminta kebaikan
Di hari-hari yang akan datang
Hingga suatu hari
Sekilas terbetik untuk singgah di tempat makan
Tempat yang sama ketika aku melihat kura-kura tangguh itu
Sepi
Meja-meja telah rapi
Dan mataku tertumbuk pada toples itu
Tidak kosong
Airnya jernih
Kepala kura tangguh mengarah lurus ke wajahku
Matanya berkedip
Dia tenang
Dalam diam
Sesekali berputar perlahan
Menyesuaikan diri dengan ruang kecil itu
Dia tampak tak terganggu
Selang berapa menit
Kepalanya menjulur ke permukaan
Bertahan beberapa detik menghirup udara dengan nyaman
Lalu kembali turun dengan tenang
Berkala, dia melakukannya untuk memperoleh udara
Tapi tak lagi meronta
Tak lagi memaksa
Geraknya rapi dan teratur
dia telah menemukan cara
untuk menata kembali hidupnya..
Aku menyuap dengan senyum
Ada yang terasa lapang dalam dada
Ah, terkadang..
Apa yang terlihat di sekitar kita
Sebenarnya hanya cerminan apa yang ada dalam jiwa..
Mungkin..
Apapun itu,
Dia, kura-kura tangguh itu..
Seolah menunjukkan cara untuk tak menyerah..
Dan membuatku malu pernah tertunduk lesu seperti dulu..
Terimakasih, ya Rabb..
Langganan:
Postingan (Atom)