Minggu, 01 Januari 2012

Ayam Panggang dan Harmoni

Memang tak ada yang lebih nikmat selain masakan dari negeri sendiri.
Itu yang saya simpulkan ketika menikmati ayam panggang di kedai Turki.
Ayamnya sendiri enak, harum, empuk merata. Tapi bumbu.. hmmmm... Indonesia tetap juara, :p

Setelah obrol sana-sini, ternyata komentar teman-teman yang sudah lama di sini juga serupa, bagi kami, masakan di sini terlalu "tawar". (tapi bagus juga mungkin ya, bagi yang diet gula dan garam, :) )

Untuk menambah rasa, akhirnya saya pun minta chilli sauce, alias sambal botolan.
Namun, setelah satu suapan, lagi2 saya tak tahan untuk berkomentar.. kok rasanya solo pedas saja? Duet sedikit dengan rasa asin. Hiks.. mana manis-manisnya, asam-asam tomatnya, dan harum bawang2nyaa.. T.T (lebay ya.. hehe), lalu disusul dengan teriakan.. sambal A*C, aku padamuu.. (halah)

Setelah saya pikir-pikir,
Masakan Indonesia itu seperti "konser segala rasa" yang komposisinya harus seimbang, hehehe..
Sayur asam yang salah satu masakan favorit saya, contohnya, mengandung semua jenis rasa.. *kecuali rasa pahit dink, hihi*
Kalo melihat bumbu rendang atau sambal balado, gudeg, dll.. wah.. bermacam bumbu ada di sana.. dan rasanya lezaaat... manis, asam, asin, pedas, berpadu seimbang.

Kebanyakan masakan di sini hanya menggunakan sedikit bumbu, cukup garam dan merica, misalnya. Atau cukup dicocol mayonaise, atau saus-saus lainnya yang creamy. Sementara, kalo dipikir-pikir, yang diunggulkan dari masakan tersebut sepertinya adalah rasa asli bahan makanannya. Misalnya, rasa asli ikannya, atau sayur-sayurannya.

Berbeda dengan makanan favorit saya, si rendang, sate, sayur asam, gudeg, ikan pindang, yang bumbu-bumbunya berlimpah dan membaur hingga rasa asli makanannya tak begitu bisa dibedakan.

Hmmm... apa mungkin karena Indonesia paduan berbagai budaya ya?
Hingga sikap pertengahan nan seimbang itulah yang harus diunggulkan, bahkan dalam hal masakan?
Tentu, kita masih bisa membedakan bahwa ini wangi jeruk nipis, ini kayu manis, dsb.. tapi semua membaur dalam satu harmoni. Bersatu padu. Bhineka tunggal ika.
Nah lho.. kok jadi kesini?
Hehe..

Jujur, memang ini yang saya pikirkan.
Suatu hari saya juga sempat ngobrol dengan salah seorang supervisor di sini, katanya karakteristik manusia kadang bisa dilihat dari letak geografis tempat dimana ia berasal.
Semakin dekat ke kutub, orang-orang semakin tertutup dan individualis, katanya.
Semakin mendekati ekuator, orang-orang lebih ramah dan terbuka.
Walau tentu tak bisa digeneralisir sepenuhnya.
tapi mungkin ada benarnya juga.
Menurutnya, semua itu ada kaitannya dengan keragaman juga, mendekati ekuator, keragaman di suatu tempat menjadi lebih tinggi. Contoh nyata, tentu saja hutan amazon dan hutan Indo, yang keragaman hayatinya sangat tinggi.
Bukan berarti di tempat lain tak ada jenis binatang atau tumbuhan yang berbeda. Mereka juga memiliki ekosistem khas mereka, namun lebih homogen atau less diverse tentu saja.
Dan, katanya, di tempat dengan keragaman tinggi, sikap menjaga harmoni-lah memang yang akan membantu menjaga kelangsungan hidup kita.
Jadi, betapa indah semboyan itu sebenarnya, Bhineka Tunggal Ika, Unity in Diversity.

Hmmmm.. terakhir, saya ingat pepatah orang tua kita dahulu, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.. begitu katanya.. tak bisa kita memaksakan budaya luar ke dalam negeri kita. Ada yang asli, yang original, yang harus dipertahankan, yang dari fondasi itulah kita berharap bisa bergerak maju, membawa jati diri kita. Tidak semata mengadopsi kemajuan dan menerapkan apa yang berhasil nun di tempat yang jauh berbeda karakteristiknya.

Ah, semoga saja ini bukan cuma cerita gombal yang terlintas selagi makan ayam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar